DHAMMA

Leave a comment »

gambar

CRIM0310Copy of CRIM0291CRIM0224CRIM0289Copy of CRIM0285

Leave a comment »

Vihara- vihara Kebumen

Cetiya / Vihara  Bodhi Kirti Ds. Purodadi, Kuwarasan

Copy of CRIM0285Copy of CRIM0294CRIM0310CRIM0311

Cetiya / Vihara Dharma Subeksi Desa Wanareja, Karang Anyar

Cetiya / Vihara Dwipa Budhi Loka Nori / Plarangan, Karang Anyar

Cetiya / Vihara Giri Pura Desa Kali Batur Gianti, Rowokele

Cetiya /Vihara Jala Giri Pura Desa Karang Duwur, Ayah

Cetiya / Vihara Marga Giri Dharma Kedung gondang / Gianti, Rowokele

Cetiya /Vihara Prajna Metta Loja Desa Sitiadi, Puring

Cetiya / Vihara Tirta Dharma  Desa Sidarum, Sempor

Cetiya / Vihara Vana Sukha Bhumi Desa Wonoharjo, Rowokele

Cetiya / Vihara Maha Dana Kebumen Kota

Leave a comment »

KEISTIMEWAAN AJARAN BUDDHA

Romo Pannajayo : Keistimewaan Ajaran Buddha

Berikut ini beberapa keistimewaan dari Ajaran Buddha:

1. Teladan yang sempurna Buddha merupakan perwujdan dari kebajikan-kebajikan yang telah Beliau sampaikan. Beliau mempraktekkan semua perkataan yang disampaikan-Nya dalam tingkah laku. Kualitas moral, kebijaksanaan, dan Belas kasih-Nya adalah yang paling sempurna yang pernah ada di dunia ini.

2. Kita dapat menjadi sempurna Ajaran Buddha dapat membuat kita mencapai tingkat spiritual paling tinggi yang dapat kita peroleh. Buddha mengajarkan bahwa semua makhluk dapat mencapai mencapai kesempurnaan. Tidak ada pendiri kepercayaan lainnya yang pernah mengatakan bahwa setiap pengikutnya mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh kedamaian, kebahagiaan, dan pembebasan dirinya. Tetapi Buddha mengajarkan bahwa setiap makhluk dapat mencapai kebahagiaan yang sama dari Penerangan Sempurna, jika mereka mempraktekkan Dharma yang telah beliau praktekkan.

3. Melebihi Agama Jika definisi “Agama” adalah kepercayaan dan pemujaan pada sesuatu yang tertinggi, dengan kewajiban untuk melaksanakan upacara dan puja, maka ajaran Buddha tidak terbatas hanya sebagai agama.

4. Universal Karena perhatian Buddha adalah kebahagiaan sejati bagi semua makhluk, ajaran-Nya dapat dipraktekkan baik dalam masyarakat maupun dalam hutan sunyi, oleh semua ras maupun kepercayaan. Ini semua benar-benar tidak memihak dan universal.

5. Pemurnian pikiran Ajaran Buddha adalah satu-satunya ajaran yang tidak hanya berakhir pada menghindari semua kejahatan dan melakukan kebaikan – tetapi juga mengajarkan pemurnian pikiran seseorang. Pikiran merupakan akar dari semua kebaikan dan kejahatan, dan yang menjadi sebab dari penderitaan maupun kebahagiaan sejati.

6. Kepercayaan Diri Ketika Buddha sedang bermeditasi untuk mencapai Penerangan sempurna, tidak ada dewa yang datang mengungkapkan rahasia terselubung dari seluruh kekuatan spiritual. Tidak ada satu pun yang memberikan Beliau kepercayaan untuk diajarkan. Beliau mengatakan, “ Saya tidak mempunyai guru atau pemberi pencerahan yang mengajarkan atau memberitahukan saya bagaimana cara memperoleh Penerangan Sempurna. Saya mendapatkan Kebijaksanaan tertinggi dengan usaha, energi, pengetahuan, dan pemurnian saya sendiri.” Begitu juga, kita dapat mencapai tujuan tertingi ini melalui kesabaran dalam penyempurnaan diri kita.

7. Kebebasan berpikir Dari kandungan intelektual darui filsafat ajaran Buddha berkembanglah kebebasan berpikir dan mencari, yang mungkin berbeda dengan agama-agama lain yang ada di dunia. Walaupun Buddha mendorong kita untuk mempraktekkan ajaran-Nya, tidak ada paksaan atau keharusan untuk meyakini atau menerima ajaran Beliau.

8. Pelajaran mengenai kebenaran Buddha adalah guru terbesar yang mengajarkan Kebenaran (sifat sejati semua hal). Ajaran Buddha adalah pelajaran yang sempurna mengenai kita dan alam semesta tempat kita berada. Ajaran ini melebihi pengetahuan duniawi – merupakan Kebijaksanaan tertinggi yang membawa pada kebahagiaan Sejati. Hal yang menarik untuk diketahui bahwa universitas pertama yang didirikan di dunia, adalah Universitas Buddhis Nalanda di India, yang berkembang mulai abad kedua samapai kesembilan Masehi. Universitas ini terbuka bagi semua siswa-siswi dari seluruh penjuru dunia dan merupakan Universitas Buddhis yang menghasilkan sarjana-sarjana terkemuka dan bijaksana.

9. Pendirian yang Teguh Buddha adalah Guru yang tiada bandingnya. Beliau membebaskan dan mengundang semua pengikut-pengikut-Nya maupun kepercayaan lainnya untuk membuktikan ajaran-Nya dari setiap kemungkinan, sampai tidak ada lagi keragu-raguan mengenai ajarannya itu. Para pengikut-Nya telah berdebat tentang ajaran-Nya , dan bahkan telah mendirikan aliran-aliran Buddhis yang berbeda sesuai dengan pengertian mereka tanpa kekerasan dan pertumpahan darah.

10. Tidak ada kepercayaan yang membuta Buddha tidak pernah mejanjikan kebahagiaan surgawi ataupun penghargaan kepada mereka yang mengaku pengikut-Nya. Beliau tidak juga mejanjikan keselamatan kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Bagi-Nya, kepercayaan bukanlah penawaran melainkan jalan hidup yang mulia untuk memperoleh Penerangan Sempurna dan pembebasan bagi diri sendiri dan orang lain. Buddha mendorong semua orang untuk datang dan menemukan lebih banyak tentang ajaran Buddha dan tidak hanya sekedar mempecayainya. Beliau menasehati kita untuk memilih keprcayaan yang cocok dengan mempertimbangkan dan menyelidikinya dari berbagai segi, bukan hanya menerima segala sesuatu dengan emosional atau kepercayaan membuta.

11. Keyakinan dari pengalaman dan Akal Sehat Ajaran Buddha adalah satu-satunya agama yang dijelaskan kepada umat manusia lewat pengalaman, pencapaian, Kebijaksanaan, dan penerangan sempurna dari penemunya (Buddha) tanpa mengatakannya sebaagai perintah atau pesan dari dewa tertentu. Ini berakar dari pengalaman dan bukannya kepercayaan membuta. Masalah manusia harus dimengerti oleh seseorang melalui pengalaman-pengalaman manusia, dan dapat dipecahkan dengan mengembangkan kualitas-kualitas manusia yang sempurna. Seseorang dapat menemukan solusi melalui pemurnian dan pengembangan pikirannya, bukannya dari faktor-faktor luar. Oleh sebab itu Buddha tidak pernah mengatakan dirinya sebagai penyelamat yang supernatural. Beliau tidak pernah menemukan adanya penyelamat seperti itu. Menurut-Nya kita dapat menjadi penyelamat bagian diri kita sendiri.

12. Kebenaran keseluruhan Buddha mengatakan bahwa kita harus menghadapi kenyataan hidup dengan berani tanpa bertindak munafik serta menerima kenyataan apa pun dan kappan pun itu terjadi. Semua yang Beliau ajarkan adalah Kebenatan Praktis sejati yang membawa kita menuju Kebahagiaan Sejati.

13. Ilmiah Ajaran Buddha tidak pernah menemukan interpretasi tambahan pada apa yang diajarkan. Penemuan baru yang ditemukan oleh para ilmuwan tidak pernah bertentangan dengan ajaran Buddha karena metoda dan ajaran Buddha terbukti benar secara ilmiah. Albert Einstein (ahli fisika dan matematika), peraih Nobel, yang popular sebagai ilmuwan palin jenius pada abad ke-20, mengatakan “Agama masa yang akan datang adalah agama kosmik. Agama tersebut mengatasi Tuhan yang bersikap pribadi dan mnghindari dogma dan teologi. Mencakup baik alamiah amaupun spiritual, dan berdasar pada rasa keagamaan yang muncul dari pengalaman terhadap segala sesuatu, alami dan spiritual, serta melalui pengertian yang menyeluruh. Ajaran Buddha memenuhi cirri-ciri ini… Jika ada agama yang dapat mengimbangi ilmu pengertahuan modern, itu pasti ajaran Buddha.”

14. Unggul dalam filsafat Seperti yang dikatakan oleh Bertrand Russel (ahli matematika, filsafat, pengarang dan kritikus sosial), pemenang Nobel yang populer sebagai filsafat terhebat pada abad 20, “ Dari sejarah agama-agama yang hebat, saya lebih suka ajaran Buddha. Ajaran Buddha adalah kombinasi dari berbagai filsafat yang spektakuler dan ilmiah. Ajaran ini memakai metode ilmiah dan pada akhirnya dapat disebut rasional. Di dalamnya dapat ditemukan jawaban dari berbagai pertanyaan yang menarik seperti ‘Apa itu batin dan jasmani? Dari keduanya mana yang lebih penting? Apakah alam semesta ini bergerak menuju satu tujuan? Apa kedudukan manusia? Apakah kehidupan yang mulia itu? Ini diambil di mana para ilmuwan tidak dapat menjawabnya karena ketebatasan pengetahuan atau peralatan. Penakluknya adalah pikiran.”

15. Unggul dalam psikologi Dalam perjalanan karirnya banyak psikologi telah menemukan, seperti yang diperlihatkan oleh Dr. Carl G. Jung (penemu psikologi analitik – perintis psikologi modern) : Kita lebih dekat dengan Buddha. Dengan membaca sebagian kecil Dharma dapat disadari bahwa umat Buddha telah mengetahui masalah-masalah psikolog lebih dari 2500 tahun yang lalu, jauh sebelum masalah-masalah tersebut muncul pada masa modern ini. Mereka mempelajari masalah ini pada masa lalu dan juga menemukan jawabannya.

16. Tidak menakut-nakuti Buddha adalah figure terbesar yang mengutamakan munculnya keyakinan rasional ketimbang kepercayaan takhayul semata. Ajaran Buddha adalah ajaran yang menggunakan akal dan tidak menakut-nakuti untuk memaksa setiap orang dengan segala cara untuk mempercayainya.

17. Cinta kasih universal

18. Tanpa kekerasan Tidak ada kata peperangan yang kita lihat dalam Agama Buddha. Buddha mengatakan, “Yang menang akan dibenci dan yang kalah hidup dalam penderitaan, siapa yang melepaskan kemenangan dan kekalahan adalah orang yang bahagia dan hidup dalam kedamaian.”

19. Persamaan derajat Buddha adalah yang pertama menentang sistem kasta dalam hak asasi manusia, dan mengutamakan kesamaan dari semua makhluk tanpa memandang perbedaan tingkat social, suku bangsa, maupun kepercayaan. Buddha mengatakan, “Pergilah ke semua negara dan sebarkan ajaran ini, Katakan pada mereka bahwa yang miskin dan rendahm yang kaya dan tinggi semuanya satu dan semua kasta menyatu dalam kepercayaan ini seperti semua sungai yang mengalir ke laut.”

20. Persamaan dalam jenis kelamin Gerakannya untuk mengijinkan wanita menjadi anggota sangha (persanuhan bhiksu dan bhiksuni) sangat radikal pada waktu itu.

21. Demokrasi Buddha adalah yang pertama membela semangat permusyawaratan dan proses demokrasi. Dalam sangha, setiap anggota mempunyai hak yang sama untuk memutuskan hal-hal yang umum. Ketika suatu masalah besar ditanyakan, maka pertanyaan tersebut disebarkan dahulu dan didiskusikan dalam kebersamaan, mirip dengan sistem parlementer saat ini.

22. Peduli terhadap lingkungan Ajaran Buddha sangat mendukung kepedulian dan menghormati lingkungan sekitarnya karena Beliau telah melihat dengan jelas hubungan yang erat antara manusia dengan alam.

23. Tidak ada upacara pengorbanan Buddha tidak membenarkan pengorbanan terhadap binatang karena Beliau melihat hal itu sangat kejam dan tidak adil seseorang menghancurkan kehidupan makhluk lain hanya untuk keuntungan pribadi yang egois.

24. Tidak ada peragaan keajaiban Keajaiban tidaklah dipandang sebagai penunjukan adanya penerangan sempurna atau kebijaksanaan, karena kekuatan supranatural dapat dimiliki oleh siapa saja. Supranatural dilihat sebagai fenomena alami yang tidak dapat dimengerti oleh mereka yang belum tercerahkan. Beliau mengajarkan bahwa keajaiban tertinggi adalah kemampuan untuk mengubah seseorang yang bodoh menjadi seseorang yang bijaksana.

25. Tidak menyalah gunakan politik Buddha berasal dari kasta ksatria dan masuk dalam kategori raja, pangeran, dan menteri. Tetapi Beliau tidak pernah menggunakan pengaruh kekuatan politin untuk menyebarkan ajaran-Nya,. Dan juga Beliau tidak memperbolehkan ajaran-Nya disalahgunakan untuk mendapatkan kekuatan politik.

26. Tidak pendendam Tidak ada konsep “dosa yang tak termaafkan dalam agama Buddha. Buddha mengatakan bahwa semua yang dilakukan bermanfaat ataupun tidak bermanfaat disebabkan oleh ada tidaknya kebijaksanaan. Selalu ada harapan selama seseorang menyadari kesalahannya dan berubah utnuk menjadi lebih baik.

27. Tidak ada Eksklusivitas dan Fanatisme Buddha mengajarkan bahwa jika ada kepercayaan yang mengajarkan empat kebenaran mulia dan jalan mulia berunsur delapan, ini seharusnya dipandang sebagai agama yang benar.

28. Penyebaran tanpa kekerasan Satu contoh yang sangat tepat dari kualitas dab pendekatan misionaris Buddhis adalah Raja Asoka, yang mengirimklan penyebar agama Buddha ke berbagai daerah di Asia dan dunia Barat untuk memperkenalkan ajaran Buddha tentang perdamaian. Salah satu prasasti yang terukir di batu pilar Asoka, yang masih ada sampai saat ini di India menyatakan, “ Seseorang seharusnya tidak hanya menghargai agamanya dan mencela agama orang lain, tetapi seseorang seharusnya menghargai agama orang lain. Dengan melakukan hal ini, seseorang membantu agamanya untuk tumbuh dan memberikan perlakuan yang baik terhadap agama yang lain juga. Dengan melakukan yang sebaliknya, seseorang menggali kubur bagi agamanya sendirid an merugikan agama yang lain.”

29. Tujuan yang paling berbahagia Pencapaian Kebuddhaan, atau memperoleh kebahagiaan sejati untuk diri sendiri dan orang lain adalah yang paling sulit, tetapi merupakan hal yang sangat berharga untuk dilakukan, kaerna agama Buddha berari mengikuti jalan mulia berunsur delapan (jalan tengat. Umat Buddha tidak selayaknya mengikuti salah satu bentuk ekstrim.

30. Gambaran lengkap mengenai umat manusia dan agama Buddha menjelasakan secara rasional dan mendetail tentang bagaimana semua kepercayaan spiritual berubah sepanjang sejarah sejalan dengan perubahan dalam pola piker manusia. Beliau juga memberi kita sebuah gambaran yang jelas mengenai pengaruh agama pada kehidupan umat manusia.

31. Jalan sempurna untuk menuju kebahagiaan sejati

32. Kebahagiaan dalam hidup ini Ajaran Buddha bukanlah sebuah agama yang hanya untuk kehidupan di dunia lain semata. Walaupun dengan mempraktekkan ajaran Buddha dalam kehidupan ini akan menghasilkan dampak positif untuk kehidupan kita yang selanjutnya, sebagian besar dari hasil latihan atau praktek kita kan dapat dirasaknan dalam kehidupan saat ini juga.

33. Segala sesuatu itu terbuka Menurut Buddha, kebenaran itu merupakan hal yang terbuka untuk ditemukan semua orang untuk kebaikan diri mereka sendiri.

34. Perbuatan baik dan penuh pengertian Pesan Buddha mengenai perbuatan baik dan penuh pengertian terhadap semua makhluk adalah sebuah pesan universal. Dunia saat ini membutuhkan pesan mulia ini lebuih dari sebelumnya dalam sejarah kemanusiaan.

( REFERENSI INI DIAMBIL DARI SITUS Blog Vihara Surya Adhi Guna Rengasdengklok)

Leave a comment »

Nyi Danowati Pemeluk Agama Buddha yang setia di akhir Kerajaan Majapahit abad ke-14.

Nyi Danowati abdi yang setia di akhir Kerajaan Majapahit abad ke-14.

Nyi Danowati, penjaga museum pusaka dan pembuat seragam prajurit pada akhir Kerajaan Majapahit abad ke-14.

“’ Waktu itu, Kerajaan Majapahit yang diperintah Girindrawardhana yang bergelar Brawijaya VI (1478-1498) berada dalam desakan Kerajaan Demak yang menganut Islam. Sejumlah pengikut Brawijaya yang menganut Hindu-Buddha memilih hengkang dari Majapahit karena tidak mau masuk Islam.

Salah satu pengikut Brawijaya itu adalah Nyi Danowati. Bersama tiga saudaranya, yaitu Ki Dukut, Kek Truno, dan Ki Dalang Becak, perempuan yang konon berparas ayu itu pergi menyusuri pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Nyi Danowati dan dua saudaranya berpisah dengan Ki Dalang Becak. Ia melanjutkan perjalanan hingga ke kawasan rawa-rawa yang penuh pohon druju atau sejenis semak berduri, sedang Ki Dalang Becak menetap di Tuban.

Bersama Ki Dukut, Nyi Danowati membuka lahan di daerah rawa-rawa itu sebagai tempat tiras pandelikan atau tempat persembunyian. Lantaran Ki Dukut itu seorang lelaki, ia mampu membuka lahan yang sangat luas, sedangkan lahan Nyi Danowati sempit.

Tak kurang akal, Nyi Danowati mengadakan perjanjian dengan Ki Dukut. Ia meminta sebagian lahan Ki Dukut dengan cara menentukan batas lahan melalui debu hasil bakaran yang terjatuh di jarak terjauh.

Ki Dukut menyetujui usulan itu. Jadilah kawasan Nyi Danowati lebih luas sehingga sebagian kawasan diberikan kepada Kek Truno yang tidak mau babat alas. Daerah milik Nyi Danowati dinamai Bakaran Wetan, sedang milik Kek Truno bernama Bakaran Kulon.

Adapun Ki Dukut yang kawasannya sangat sempit itu menamakan daerah itu Pedukuhan Alit atau Dukutalit. Ketiga desa itu sampai sekarang tetap ada dan saling berbatasan satu dengan yang lain. Secara lebih luas lagi, kawasan itu dikenal sebagai Drujuwana (hutan druju) atau Juwana.

Di Bakaran Wetan itulah Nyi Danowati membangun permukiman baru. Sejumlah warga yang semula tidak mau menempati daerah berawa-rawa itu mulai tertarik membangun permukiman di sekitar rumah Nyi Danowati.

Agar tidak dicurigai orang bahwa ia pemeluk agama Hindu-Buddha, Nyi Danowati mengubah nama menjadi Nyai Ageng Siti Sabirah. Ia juga mendirikan masjid tanpa mihrab yang disebut Sigit. Di pendopo dan pelataran Sigit itulah Nyi Danowati mengajar warga membatik.” (Kompas.Kamis, 13 Agustus 2009)

Dari kekuatan keyakinan Nyi Danowati, kita dapat mencotohnya. Tidak menjual keyakinan benar hanya demi kemakmuran dan keselamatan di dunia fana. Lebih baik pergi dari pada mati sia-sia. Kalau dahulu Nyi Danowati dan saudara-saudaranya tidak pergi maka akan mati sia-sia. Agama Buddha di Juwana Pati mungkin tidak akan muncul kembali, berkat jasanya hingga kini Juwana Pati menjadi pemukiman Buddhis dan menjadi pewaris Batik Majapahit. Ketauladanan Nyi Danowati sudah sepantasnya patut di contoh, berani” Hidup” walau dalam situasi yang menyakitkan, betapa tidak menjadi buronan tentara Demak.

( silakan, masukan komentar, tambahan naskah, apabila kurang berkenan di hati pembaca mohon maaf)

Do’a yang baik adalah mendoakan “Semoga semua mahkluk hidup beruntung dan berbahagia”

Leave a comment »

BAB VI: PANDITA VAGGA- ORANG BIJAKSANA

BAB VI: PANDITA VAGGA- ORANG BIJAKSANA

200

76 . Seandainya seseorang bertemu orang bijaksana yang mau menunjukkan dan memberitahukan kesalahan-kesalahannya,
seperti orang menunjukan harta karun,
hendaklah ia bergaul dengan orang bijaksana itu.
Sungguh baik dan tidak tercela bergaul dengan orang yang bijaksana.

77.  Biarlah ia memberi nasehat, petunjuk, dan melarang apa yang tidak baik,
orang bijaksana akan dicintai oleh orang yang baik dan dijauhi oleh orang yang jahat.

78.  Jangan bergaul dengan orang jahat,
jangan bergaul dengan orang yang berbudi rendah,
tetapi bergaullah dengan sahabat yang baik,
bergaullah dengan orang yang berbudi luhur.

79. Ia yang mengenal Dhamma akan hidup berbahagia dengan pikiran yang tenang.
Orang bijaksana selalu bergembira dalam ajaran yang dibabarkan oleh para Ariya.

80. Pembuat saluran air mengalirkan air,
tukang panah meluruskan anak panah,
tukang kayu melengkungkan kayu,
orang bijaksana mengendalikan dirinya.

81. Bagaikan batu karang yang tak tergoncangkan oleh badai,
demikian pula para bijaksana tidak akan terpengaruh oleh celaan maupun pujian

82. Bagaikan danau yang dalam,
airnya jernih dan tenang.
Demikian pula batin para orang bijaksana,
menjadi tentram karena mendengarkan Dhamma.

83. Orang bajik membuang kemelekatan terhadap sesuatu,
orang suci tidak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan nafsu keinginan.
Dalam menghadapi kebahagiaan atau kemalangan,
Orang bijaksana tidak menjadi gembira maupun kecewa.

84 Seseorang yang arif tidak berbuat jahat demi kepentingannya sendiri ataupun orang lain,
demikian pula ia tidak menginginkan anak, kekayaan, pangkat atau keberhasilan dengan cara yang tidak benar.
Orang seperti itulah yang sebenarnya luhur, bijaksana, dan berbudi.

85 Diantara umat manusia hanya sedikit yang dapat mencapai pantai seberang,
sebagian besar hanya berjalan hilir mudik di tepi sebelah sini.

86. Mereka yang hidup sesuai dengan Dhamma yang telah diterangkan dengan baik,
akan mencapai Pantai Seberang,
menyeberangi alam kematian yang sangat sukar diseberangi.

87. Meninggalkan rumah dan pergi menempuh kehidupan tanpa rumah,
demikian hendaknya orang bijaksana meninggalkan keadaan gelap (kebodohan),
dan mengembangkan keadaan terang (kebijaksanaan).
Hendaknya ia mencari kebahagiaan pada ketidakmelekatan yang sulit didapat.

(88) Dengan meninggalkan semua kesenangan indria dan kemelekatan,
demikian hendaknya orang bijaksana membersihkan dirinya dari noda-noda pikiran.

89. Mereka yang telah menyempurnakan pikirannya dalam Tujuh Faktor Penerangan,
yang tanpa ikatan, yang bergembira dengan batin yang bebas,
yang telah bebas dari kekotoran batin, yang bersinar,
maka sesungguhnya mereka telah mencapai Nibbana dalam kehidupan sekarang ini juga.

Leave a comment »

BAB V: BALA VAGA- ORANG BODOH

BAB V: BALA VAGA- ORANG BODOH

KERBAU BODOH

60.  Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga,
satu yojana terasa jauh bagi orang yang lelah;
sungguh panjang siklus kehidupan bagi orang bodoh yang tidak mengenal Ajaran Benar.

61. Apabila dalam pengembaraan seseorang tak menemukan sahabat yang lebih baik atau sebanding dengan dirinya,
maka hendaklah ia tetap melanjutkan pengembaraannya seorang diri.
Janganlah bergaul dengan orang bodoh.

62 “Anak-anak ini milikku, kekayaan ini milikku,”
demikianlah pikiran orang bodoh.
Apabila dirinya sendiri sebenarnya bukan merupakan miliknya,
bagaimana mungkin anak dan kekayaan itu menjadi miliknya?

63 Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya,
maka ia dapat dikatakan bijaksana;
tetapi orang bodoh yang menganggap dirinya bijaksana,
sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh.

64 Orang bodoh, walaupun selama hidupnya bergaul dengan orang bijaksana,
tetap tidak akan mengerti Dhamma,
bagaikan sendok yang tidak dapat merasakan rasa sayur.

65 Walaupun hanya sesaat saja orang pandai bergaul dengan orang bijaksana,
namun dengan segera ia akan dapat mengerti Dhamma,
bagaikan lidah yang dapat merasakan rasa sayur.

66 Orang bodoh yang dangkal pengetahuannya,
memperlakukan diri sendiri seperti musuh;
ia melakukan perbuatan jahat yang akan menghasilkan buah yang pahit.

67 Bilamana suatu perbuatan setelah selesai dilakukan membuat seseorang menyesal,
maka perbuatan itu tidak baik.
Orang itu akan menerima akibat perbuatannya dengan ratap tangis dan wajah yang berlinang air mata.

68  Bila suatu perbuatan setelah selesai dilakukan tidak membuat seseorang menyesal,
maka perbuatan itu adalah baik.
Orang itu akan menerima buah perbuatannya dengan hati gembira dan puas.

69  Selama buah dari suatu perbuatan jahat belum masak,
maka orang bodoh akan menganggapnya manis seperti madu;
tetapi apabila buah perbuatan itu telah masak,
maka ia akan merasakan pahitnya penderitaan.

70  Biarpun bulan demi bulan orang bodoh memakan makanannya dengan ujung rumput kusa,
namun demikian ia tidak berharga seperenambelas bagian dari mereka yang telah mengerti Dhamma dengan baik.

71  Suatu perbuatan jahat yang telah dilakukan,
tidak segera menghasilkan buah,
seperti air susu yang tidak langsung menjadi dadih;
demikianlah perbuatan jahat itu membara mengikuti orang bodoh,
seperti api yang ditutupi abu.

72 Orang bodoh mendapat pengetahuan dan kemashuran yang menuju kepada kehancuran,
Pengetahuan dan kemashurannya itu akan menghancurkan semua perbuatan baiknya,
dan akan membelah kepalanya sendiri.

73 Seorang bhikkhu yang bodoh,
menginginkan ketenaran yang keliru,
ingin menonjol di antara para bhikkhu,
ingin berkuasa dalam vihara-vihara,
dan ingin dihormati oleh semua keluarga.

74 “Biarlah umat awam dan para bhikkhu berpikir bahwa hal ini hanya dilakukan olehku,
dalam semua pekerjaan besar atau kecil mereka menunjuk diriku,
“demikianlah ambush bhikkhu yang bodoh itu,
dan keinginan serta kesombongannya pun terus bertambah.

75 Ada jalan lain menuju pada keuntungan duniawi,
dan ada jalan lain yang menuju ke Nibbana. Setelah menyadari hal ini dengan jelas,
hendaklah seseorang bhikkhu siswa Sang Buddha tidak bergembira dalam hal-hal duniawi,
tetapi mengembangkan pembebasan diri.

Leave a comment »